Cerita Tukang Solder dan Hantu

Tukang Solder dan Hantu
 ( Cerita dari spanyol)
            Disuatu dataran yang luas dekat kota Toledo ada sebuah puri berwarna kelabu.Bertahun tahun puri itu kosong, tidak ada orang yang berani menempatinya. Kata orang dengan berbisik-bisik , didalam puri itu ada hantu. Hantu itu menakutkan semua orang yang masuk kedalam puri. Semua orang yang pernah masuk kedalamnya pada waktu petang hari,keesokan harinya ditemukan sudah menjadi mayat. Oleh sebab itulah puri itu selalu kosong.
          Setiap malam di dalam ruang-ruang yang besar selalu terdenganr suara yang mengeluh , merintih, dan meratap. Juga suara orang yang menanggung kesakitan dan kesedihan yang sangat berat. Pada malam Ramadan, yang disebut malam semua orang suci, tampak cahaya samar-samar di cerobong asap. Caya itu hidup-mati,hidup-mati,hidup-mati tampak di langit hitam kelam.
          Orang-orang pandai dan petualang-petualang telah mencoba mengusir hantu itu. Akan tetapi, pada pagi hari mereka mati kaku di atas duduk mereka.
          Pada suatu hari dalam bulan ramadan datanglah didesa seorang tukang solder. Ia seorang yang lucu dan periang . Namanya Esteban.Selagi ia menambal panci , cerek, belanga, dan lain-lainnya didengarnya cerita =cerita tentang hantu di dalam puri itu.
          “Nanti pada bulan Ramadhan, pada malam semua orang suci , akan tampak cahaya, hidup-mati,hidup-mati keluar dari cerobong asap puri itu,” cerita ibu-ibu sambil menunggu  panci,belanga,dan cereknya yang di tambal.
          “Kalau Esteban mau, dapat engakau pergi ke dekat puri untuk mendengar kan suara ratap tangis dan keluh kesah di dalamnya.”
          “Kalau aku mau?kalau aku berani?ibu-ibu, aku mau dan aku berani tidur di dalam puri itu pada malam hari. Senang hati akan kutemui roh yang kesepian itu.”
          “Tahukah engkau, Esteban? Orang yang dapat mengusir hantu itu akan mendapat hadiahseribu real , mata uang emas ?”
          ‘Ha,seribu real mata uang emas? Aku mau dan sanggup mengusir  hantu itu! Tetapi aku seorang yang suka makan dan suka minum. Aku ingin sediakan kayu bakar untuk berdiang, dang lembu 3 kilo, dua botol anggur yang lezat, selusin telur ayam dan panci penggorengan!”
          Ibu-ibu di desa itu pun senang mendengar kesanggupan Esteban itu. Mereka dengan senang hati menyediakan apa yang di inta oleh Esteban.
          Ketika malam tiba, barang-barang itu di angkut dengan keledai. Orang –orang itu tidak mengantarkan sampai ke pintu gerbang. Mereka hanya berani melihat dari jauh.
          Malam gelap tiba. Angi dingin bertiup perlahan-lahan hujan gerimis menambah suasana menakutkan. Esteban menambahkan keledai pada sebatang pohon. Semua persediaan diangkut kedalam puri.
          Didalam sangat gelap. Kelelawar berterbangan. Segera di timbunnya kayu bakar di perapian, lalu dinyalakannya. Cahaya api kemerah-merahan membuat suasana agak menyenangkan dan hawa dingin dapat di atasi. Esteban lalu duduk di kursi depan perapian. 
          “Nah, inilah cara agar tidak kedinginan dan tidak dihinggapi rasa takut!”katanya.
          Disayatnya daging lalu ditaruhnya diatas penggorengan. Baunya sedap. Suara gemercik daging terbakar di atas lapisan lemak sangat menyenangkan. Baru saja ia hendak mengangkat botol untuk mereguk anggur, keluarlah suara dari cerobong asap.
          “Aduh, tolonglah aku! Aduh, tolonglah aku!”
          Esteban dengan tenang mereguk anggur dari botol. Kemudian botol itu di letakkan nya di sampingnya. Gerutunya”itu baru sambutan yang kurang mengembirakan, kawan!”
          Dibalik-baliknya daging dalam penggorengannya agar rata masaknya.”Namun masih cukup baik sambutan itu bagi orang yang separuh hidupnya biasa mendengarkan ringkik keledai,”gerutunya lagi.         
“Aduh,tolonglah aku! Aduh, tolonglah aku!”terdengar lagi suara itu.
Esteban mengangkat dagingdari penggorengannya,di taruhnya di atas kertas berwarna kuning agar menjadi kering. Lalu di tebar-tebarkanya garam dan merica di atas daging itu. Lalu di pecahkannya telur di atas penggorengan. Pada waktu itu datanglah suara dari cerobong asap.
“Awas, dibawah! Aku akan jatuh!”
Esteban dengan senangnya menyahut. “Baik!Baik! Janganlah jatuh di penggorengan !” “Gedebrak!” Diatas lantai terletak kaki seorang laki-laki dewasa memakai celana dari korduroi.
Esteban dengan tenangya makan daging goreng dan telur goreng, lalu mereguk beberapa teguk anggur lezat dari botol. Angin menderu-deru di luar puri, jendela-jendela di hempas-hempaskan oleh hujan dan angin. Lalu ada suara lagi.
“Awas! Awas,aku jatuh! Awas, aku jatuh!”
“Gedebruk!”di lantai terletak kaki kedua, sekarang sebelah kiri.Esteban mengangkat kaki kanan dan kiri tu, lalu diletakkanya di samping kursinya. Bergaya seperti kaki orang yang sedang tidur.Ditambahnya kayu bakar pada perapian. Disayatnya daging, beberapa sayat. Kemudian, digorengnya lagi dua butir telur.
Terdengar lagi suara seram dan ngeri.
“Aduh!Aduh!Awas,aku jatuh!Awas, aku jatuh!” sekarang suara itu makin keras.”jatuhlah!’ sahut Esteban, “ Tapi jangan jatuh di panci penggorengan dan jangan sampai menumpahkan telur gorengan ku!”
“Gedebrak, gedebruk,gedebrak!” di atas lantai terletak tubuh manusia. Berkemeja biru dan memakai jas dari korduroi.
Esteban dengan lahapnya menyantap dua telur goreng. minum anggur seteguk, lalu diangkatnya tubuh manusia itu, ditaruhnya di samping kursinya. Berdekatan dengan kedua belah kaki yang jatuh terlebih dahulu. Lalu dia menggoreng daging lagi. Garam dan merica sudah di sediakan. Tiba-tiba terdengar suara lagi, lebih keras dan lebih seram.
“Awas, Awas! Aku jatuh. Aku jatuh!”
“Nah, barangkali giliran kepalanya!”pikir  Esteban. Benar juga. Setelah suara gedebrak gedebruk, terletaklah dilantai satu kepala manusia. Bermbut gondrong, berjambang, berkumis, dan berjenggot lebar. Matanya hitam bersih.
Dengan senang Esteban mengangkat kepala itu, lalu di letakkan di sebelah atas badan yang jatuh terldahulu. Dengan tiba-tiba , bagian-bagian badan manusia itu bersatu kembali dan berdirilah seseorang di depan Esteban. Esteban melihatnya dengan tenang.
“Selamat malam!” seru Esteban. “Engkau mau telur goreng atau daging goreng?”
“Tidak! Aku tidak mau apa-apa!” jawab hantu itu. “Aku hanya ingin bicara kepadamu. Sekarang dan di tempat ini! Engkau adalah satu-satunya orang yang berhasil menolong aku. Engkau lah yang membuat badan ku utuh kembali. Orang-orang lain sudah mati ketakutan sebelum anggota-anggota badanku lihat.”
“Karena mereka tidak mau membawa bekal makanan, minuman, dan kayu bakar seperti aku!” jawab Esteban. Lalu bersiap-siap meletakkan panci penggorengan di atas api.
“Tunggulah sebentar,” kata hantu. “ kalau engkau mau menolongku lagi, engka akan dapat menolong jiwaku dan memudahkan aku dalam perjalanan ke dunia orang perang yang sudah mati.”  
“ya, apalagi yang dapat kukerjakan untuk mu?”
“Diluar, bawah pohon cemara, aku telah menyebunyikan harta. Tiga koper uang logam. Yang satu berisi uang tembaga, yang kedua berisi uang perak, dan yang ketiga berisi uang emas. Aku curi koper-koper itu dari beberapa pencuri lain. Ku bawa lari kemari dan kusembunyikan disana, tetapi mereka  dapat menangkap aku. Aku dibunuh mereka, badanku dipotong-potong. Tetapi mereka tidak dapat menemukan harta itu. Ikutlah aku sekarang. Galilah harta itu. Aku ingin menebus dosaku. Barang kali dapat meringkan kan hukuman diakhirat. Mata uang tembaga itu kau serahkan kepada pak lurah untuk membangun Mesjid. Mata uang perak kau serahkan kepada yang berwajib untuk dibagikan kepada fakir miskin  dan mata uang emas  itu adalah hak mu karena engkau telah  menolongku.”
Esteban setuju. Ia bersama hantu menuju halaman. Diluar terdengar keledai meringkik. Ketika sampai dibawah pohon cemara hantu berkata, “Galilah!”
“Galilah sendiri!” jawab Esteban.
Hantu pun mulai menggali dan dalam waktu sebentar saja koper-koper berisi harta itu sudah berada dimuka mereka berdua.
“Nah, maukah engkau mengerjakan apa yang kau minta?”
“ya, aku berjanji!”
“Lepaskan semua pakaian ku dari badanku !
Esteban melakukan apa yang diminta oleh hantu. Lenyaplah hantu tidak berbekas. Yang tinggal hanyalah pakaiannya yang sudah compang camping. Hantu itu telah memperoleh apa yang diingkan, yaitu keringanan hukuman atas dosa-dosanya.
Ketiga koper itupun diangkat Esteban kedalam puri. Mereka mengira Esteban sudah mati kaku diatas kursinya didepan perapian. Ketika mereka masuk, ditemukan Esteban sedang menggoreng daging.
“Engkau masih hidup Esteban. Selamatlah.”
“Ya, kalian melihat sendiri! Kayu bakar,  bahan makanan, serta minuman itulah yang membuat aku tidak takut.” Katanya kemudian, “sekarang antarkan aku kerumah pemilik puri ini. Aku ingin segera menerima upahku. Seribu real uang emas!”
“Engkau benar-benar telah mengusir hantu itu?”
“ya, ya! Tengoklah dihalaman. Disana ada pakaian yang ditinggalkannya. Hantu tidak akan kembali lagi.”
Didepan orang-orang desa yang masih keheran-heranan itu, dinaikanya tiga koper berisi uang itu keatas punggung keledai.
Hari itu adalah hari yang paling menyenangkan bagi Esteban, tukang solder itu.Pertama, ia menerima hadiah seribu real uang emas dari pemilik puri. Ia telah berhasil mengusir hantu dari dalam puri. Kedua, dapat bertemu denga pak lurah yang sanggup menerima uang sekoper untuk digunakan pembiayaan pembangunan Mesjid. Ketiga, ia dapat bertemu dengan yang berwajib, yang sanggup membagi-bagikan uang logam perak kepada fakir miskin.
Selanjutnya dengan uang hadiah dari pemilik puri dan uang hadiah dari hantu yang ditolongnya itu, Esteban dapat hidup seperti raja. Tidak usah lagi bersusah payah menambal panci, belanga, dan cerek. Walaupun begitu, ia tidak akan menolak untuk mengerjakanya apabila diperlukan sebab ia orang  yang sederhana.

Related Posts by Categories



Artikel Terkait


Andri Arai Atei Takam Katuluh Ni. Andri Naun Hang Yari Isa Lawit Uneng Ni, Mara Takam Ngantuh "Selamat Panalu" Ma Posting Selanjut Ni..!!

Posting Komentar

Makasih

SILAKAN TINGGALKAN JEJAK ANDA DISINI DAN JANGAN LUPA KOMENTAR, KRITIK, SARAN, INFO, DAN LIKE FUNPAGES ATAU TUKERAN LINKNYA YO BROTHER, OK! | Please Leave Your Impressions Here | пожалуйста оставьте ваши впечатления здесь