Tanaman Pike


Tanaman Pike adalah sejenis sayuran yang sering dikonsumsi masyarakat Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah. Pike adalah keluarga dari jenis paku-pakuan yang tumbuh subur di daerah bergambut dan pinggir-pinggir sungai. Yang unik dari tanaman ini adalah tanaman ini bisa dikonsumsi dan dijadikan sayur masakan yang khas dan memberikan pigmen atau warna khas dari warna daun Pike tersebut.  Selain memberikan warna pada masakan, rasa dari tanaman ini adalah khas dan sedap pastinya.

Konon di masyarakat Dayak, selain untuk dikonsumsi sebagai pelepas  rasa lapar tanaman ini baik dikonsumsi oleh wanita setelah melahirkan atau orang yang kekurangan darah karena bersifat sebagai suplemen penambah darah.

Sama halnya dengan daun singkong, tanaman Pike yang baik dikonsumsi adalah daun muda atau tunas mudanya dan di oseng dengan tambahan bawang putih dan bawang  merah, garam dan micin dijamin memberi  sensasi makan yang berbeda.


Bagi masyarakat Dayak Maanyan yang berkantong tipis, tanaman ini hadir sebagai solusi pelepas rasa lapar tanpa menguras kantong alias tersedia gratis dan melimpah di lingkungan. 

Ritual Pesta Panen Suku Dayak Maanyan (Ritual Miwit Alah)


Ritual ini sudah turun temurun dilaksanakan oleh Suku Dayak Maanyan, hingga saat ini. Walapuun sebagian besar masyarat Dayak Maanyan sudah memeluk Agama Kristen (Ungkup) tetapi masih banyak Suku Dayak Maanyan yang masih teguh menganut agama kepercayaan nenek moyang mereka yaitu agama Hindu Kaharingan.

Ritual Pesta Panen adalah ungkapan rasa syukur masyarakat Dayak Maanyan atas semua pemberian Yang Maha Kuasa atas segala hasil panen mereka terutama Padi.
Pada awal mulanya Masyarakat Dayak Maanyan adalah suku yang mendiami pinggiran sungai atau bermata pencaharian sebagai nelayan tetapi karena situasi dan kondisi saat itu memaksa mereka untuk berpindah tempat jauh kepedalaman hutan. Dalam riwayat Dayak Maanyan kejadian ini dikenal dengan Usak Jawa. Saat dalam kondisi berpindah tersebut semua kebudayaan nelayan mereka menjadi sedikit hilang dan berganti dengan kebudayaan yang nomaden. Salah satu ciri kebudayaan Dayak Maanyan yang nomaden tersebut adalah berladang atau bercocok tanam yang berpindah-pindah.
Berladang atau bercocok tanam dalam masyarakat Dayak Maanyan identik dengan tanaman padi, karena memang komoditas inilah yang cocok dengan keadaan iklim dan tanah Kalimantan.

Saat usai masa panen Padi masyarat Dayak Maanyan  wajib untuk melaksanakan syukuran dalam bentuk Ritual Pesta Panen atau dalam bahasa DayakMaanyan “Miwit Alah”.

Ritual ini tentunya dilasanakan seusai masa panen padi, sebagai ungkapan rasa syukur kepada TYME yang telah memberikan limpahan berkat lewat panen yang berlimpah. Ritual ini dilasanakan dengan Wadian atau tetua adat kampung dan sessaji yang dipersiapkan untuk disucikan.


Adapun sesaji tersebut biasanya terdiri dari nasi kuning, hitam dan putih, ayam jago panggang, pakikin atau sejenis lemang yang isinya tidak dikeluarkan dari bambunya, kopi, kaluwit atau tepung ketan yang dikukus didaun pisang dan diberi gula merah sebagai isinya, dua buah patung kayu yang berbentuk laki-laki dan perempuan.
Sesaji yang telah tersedia diletakkan dianyaman bambu dan diletakkan di atas panggung kayu yang sebelumnya telah dibuat secara bergotong royong.


Ritual ini dilaksanakan pada malam hari oleh balian atau tetua adat selama beberapa malam. Pada acara inilah yang terkadang terjadi kerasukan roh halus atau leluhur kedalam diri Wadian atau tetua adat yang melaksanakanya. Dan terkadang kepada penonton yang melihat acara tersebut. Dan setelah acara usai, sesaji yang telah disucikan tadi di taruh tempat sepi dipinggir jalan berladang masarakat.




Terapi Asma dengan Kelelawar Ala Suku Dayak Maanyan


Dilansir dari lama Wikipedia Indonesia Penyakit Asma (dalam bahasa Yunani σθμα, ásthma, "terengah") merupakan peradangan kronis yang umum terjadi pada saluran napasyang ditandai dengan gejala yang bervariasi dan berulang, penyumbatan saluran napas yang bersifat reversibel, dan spasme bronkus. Gejala umum meliputi mengi, batuk, dada terasa berat, dan sesak napas.

Asma pada awalnya diperkirakan disebabkan oleh kombinasi faktor genetika dan lingkungan. Diagnosis biasanya didasarkan atas pola gejala, respons terhadap terapi pada kurun waktu tertentu, dan spirometri. Asma diklasifikasikan secara klinis berdasarkan seberapa sering gejala muncul, volume ekspirasi paksa dalam satu detik (FEV1), dan puncak laju aliran ekspirasi. Asma dapat pula diklasifikasikan sebagai atopik (ekstrinsik) atau non-atopik (intrinsik) dimana atopi dikaitkan dengan predisposisi perkembangan reaksi hipersensitivitas tipe 1.

 Dari penjelasan diatas  penyakit Asma bisa disembuhkan dengan obat-obatan yang sudah banyak beredar dan bisa juga dengan terapi.

Nah untuk kali ini saya tidak akan membahas pengobatan penyakit asma dengan cara medis karena sudah banyak yang bahas dan saya kurang ngerti tentang hal itu...hehe.
Oke lanjut... di Masarakat Suku Dayak Maanyan berbagai penyakit medis atau non medis bisa disembuhkan dengan cara tradisional ya salah satunya penyakit Asma.
Oke pasti pertanyaan pertama  yang terlintas apa itu obatnya? Jawabanya Kelelawar. Kenapa harus Kelelawar? Ya, karena hewan tersebut sudah lumayan terbukti dan turun temurun menjadi resep obat yang dipakai oleh Suku Dayak Maanyan dalam mengobati penyakit Asma.

Bagaimana cara mengolah hewan ini menjadi obat atau ramuan? Pertama kita harus mengenal apa itu Kelelawar atau dalam bahasa Dayak Maanyan Paing adalah hewan pemakan buah-buahan yang yang aktif terbang pada malam hari. Hewan ini biasanya hidup berkelompok dan terbang mencari makanan secara berkelompok pula.

Didaerah Kalimantan Tengah atau khususnya didaerah Kabupaten Barito Timur hewan ini muncul pada musim buah-buahan, jadi ada musimnya tidak selalu tersedia dialam. Namun saat ini banyak penjual yang yang bertransaksi menjual Kelelawar diluar musim. Maksudnya adalah penjual tersebut berburu ketempat atau daerah lain tetapi menjualnya didaerah Barito Timur. Namun saya tidak tau, didaerah lain di Indonesia ini apakah hewan ini selalu tersedia atau tidak??


Untuk mengolah hewan ini menjadi ramuan obat adalah cara pertama buang lah isi perutnya dan kulit sekitar lehernya yang berwarna kuning dan daun telinganya. Lalu bersihkan dengan air untuk membersihkan bagian perutnya yang isinya sudah dibuang tadi. Setelah itu potong dagingnya sesuai selera.Rebus dengan air matang dan tambahkan bawang putih, garam dan mecin.  Untuk lebih nikmat bisa ditambahkan sayur daun Keladi atau tunas muda Keladi. Dan masakan ini tidak hanya menjadi ramuan obat tetapi menjadi makanan khas bagi masyarakat Dayak Maanyan.  
Cara kedua yaitu agak sedikit ekstrim yakni dengan mengambil  bagian empedu kelelawar dan menelanya utuh.

Demikian cara mengobati penyakit Asma dengan ramuan tradisional Suku Dayak Maanyan. Dan masih banyak lagi ramuan obat tradisional Suku Dayak Maanyan yang masih belum terungkap.

Serba - Serbi Barito Timur


Penduduk utama Kalimantan Tengah adlah Suku Dayak, di Kalimantan Tengah terdapat beberapa Suku Dayak diantaranya Ma’anyan, Ot Danum, dan Ngaju. Suku Dayak Ngaju sebagian besar mendiami daerah hilir disepanjang daerah sungai Kapuas, sungai Kahayan, sungai Rungan Manuhing, Sungai Barito, dan Sungai Katingan.

            Suku Bakupai adalah suku Dayak Ngaju yang telah beragama Islam, Suku ini banyak mendiami daerah sepanjang aliran sungai Barito, di Tumbang Samba, Katingan. Disepanjang Sungai Mahakam bagian tengah, diantaranya didaerah Long Iram.

Kabupaten Barito Timur dengan Ibu Kota Tamiang Layang terletak antara 102’LU 205’ LS dan 114 - 115 BT Kabupaten ini secara adminitratif berbasis disebelah utara, Selatan dan Barat dengan Kabupaten Barito Selatan, disebelah Timur Berbatasan dengan Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan.

Penduduk Barito Timur juga tersebar di sepuluh kecamatan yaitu, Banua Lima, Dusun Timur, Paju Epat, Awang, Patakep Tutui, Dusun Tengah, Raren Batuah, Paku, Karusen Janang. Pematang Karau yang mayoritas penduduknya adalah Suku Dayak Ma’anyan dan Lawangan, juga Suku Dayak Ngaju dan Dayak Bakumpai, suku lain seperti suku Banjar dan Jawa.

Barito Timur semula adalah bagian dari wilayah kewedanan Kabupaten Barito Timur dengan ibukota Muara Teweh. Pada saat daerah Barito Selatan menjadi daerah Otonomi pada tanggal 21 September 1959 melalui Undang-undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang pembentukan daerah tingkat II di Kalimantan, Barito Timur bersama dengan Kecamatan Dusun Timur, Kecamatan Awang, Kecamatan Banua Lima, dan Patangkep Tutui masih dalam wilayah kewedanan daerah Tingkat II Barito Selatan.
Tahun 2002 Kabupaten Barito Timur secara resmi ditetapkan sebagai Derah Otonomi berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kebaupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur.

Di zaman dahulu, banyak hal-hal dan kejadian menarik yang pernah terjadi didalam kehidupan masyarakat, sehingga banyak peninggalan-peninggalan dari para leluhur yakni para nenek moyang pada zaman dahulu, yang berupa benda keramat, cerita-cerita legenda, alat musik, tarian, budaya dan adat istiadat, padahal semua peninggalan itu dapat kita lestarikan ditengah-tengah masyarakat.

Di zaman yang modern ini banyak sekali orang yang melupakan tentang budaya, padahal budaya adalah suatu harta yang sangat berharga bagi suatu daerah, suku, bahkan masyarakat, banyak sekali peninggalan-peninggalan yang masih disimpan oleh masyarakat saat ini.   

Spot Mancing Paling Populer Di Barito Timur, Kalimantan Tengah.


Memancing adalah salah satu kegiatan yang paling diminati hampir sebagian besar orang. Begitu juga orang Barito Timur. Sungguh ada banyak tempat memancing yang populer dimasyarakat Barito Timur dan sebagian besar tempat tersebut berupa Danau yang begitu banyak menyimpan beberapa jenis ikan. Namun dari sebagian besar tempat tersebut lumayan sulit untuk dijangkau, baik dengan kendaraan roda dua atau roda empat. Ada berupa jalan beraslpal namun sudah terkelupas tanpa ada perbaikan, ada juga jalan perusahaan yang berbatu, becak saat hujan dan berdebu saat kering, dan bahkan  ada juga jalan setapak yang hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua saja. Tetapi itu semua tidaklah menjadi hambatan bagi seorang penghobi ‘gila’ memancing. Apapun kondisi jalan akan tetap ditempuh demi sebuah hobi tersebut.
Spot memancing yang sulit inilah yang mungkin menyebabkan ketersediaan ikan menjadi sangat melimpah. Namun, ada hal yang paling dibenci oleh setiap pemancing terjadi diwilayah Barito Timur ini. Hal tersebut adalah banyak oknum yang memanfaatkan situasi dan kondisi kurang pengawasanya dari pihak terkait untuk memainkan alat setrum ikan sesuka hati. Dan apa yang terjadi, dulu ikan berlimpah sekarang sebaliknya menjadi sedikit. Tidak hanya itu ada juga yang nekat memakai berbagai macam jenis obat untuk memabukkan ikan bahkan mematikan ikan, yang tidak lain untuk mendapatkan ikan berlimpah.
Hal tersebut perlu ditindak lanjuti oleh pemerintah agar membuat Perda yang mengatur Zonasi penangkapan ikan dan menertibkan semua pelanggaran yang terjadi. Hal ini serius, karena tidak hanya mengurangi jumlah populasi ikan tetapi juga sangat merusak lingkungan.

Pemerintah Daerah seharusnya serius menangani DAS di wilayah Barito Timur ini, agar penataan lajur sungai dan tempat tinggal harus terkesan rapi dan tidak kumuh. Sehingga keberlangsungan dan pemanfaatan sungai sebagai sumber penghasilan dan kehidupan masyaratkatnya akan selalu berjalan dengan harmonis.
Berdasarkan pengalaman saya, tempat memancing yang sangat ‘keren’ di wilayah Barito Timur adalah di Desa Bingkuang, Desa Muara Pelantau, Desa Pulau Patai dan sepanjang perkebunan PT. SGM di Desa Dayu.
Yang sangat menarik dari berbagai tempat tersebut adalah di wilayah perkebunan PT. SGM karena di daerah tersebut terdapat tempat memancing dengan berbagai ikan yang tersedia cukup bervariasi diantaranya adalah Tauman, Tawelen (Gabus), Kadiki, Papuyu, dan Kakapar.
Khusus untuk ikan Tauman, ikan ini adalah ikan yang paling sulit di taklukan selain karena hanya terdapat dibeberapa tempat juga ikan ini sulit untuk memakan umpan pancing kita.

Ikan Tauman termasuk ikan predator yang memakan ikan-ikan kecil bahkan daging suiran hewan yang larung didalam sungai. Nah oleh sebab itu, didaerah Barito Timur ini ikan Tauman atau Toman ini tidak hanya dipancing dengan cara Casting/ Poping tetapi juga dengan daging suiran. Daging tersebut bisa daging ayam pada umumnya, atau yang lebih khusus lagi dan sering dipakai saya adalah daging Kampret alias Juris alias Kelelawar dengan cara menguliti atau memisahkan antara daging dengan kulitnya serta buang kepala dengan tulang tangan dan kakinya. Bentuklah umpan dengan 3 sampai empat ekor kelelawar tadi di kail dijamin tidak sampai setengah jam anda akan merasakan tarikan sang predator sungai yang dahsyat tersebut.
SILAKAN TINGGALKAN JEJAK ANDA DISINI DAN JANGAN LUPA KOMENTAR, KRITIK, SARAN, INFO, DAN LIKE FUNPAGES ATAU TUKERAN LINKNYA YO BROTHER, OK! | Please Leave Your Impressions Here | пожалуйста оставьте ваши впечатления здесь